Views: 25
“Jangan Nilai Kesejahteraan Wartawan dari Profesinya”

BINTUNI, inspirasipapua.id — Menjadi wartawan tidak otomatis menempatkan seseorang pada kelompok kesejahteraan tertentu. Begitu pula profesi wartawan tidak serta-merta identik dengan kemiskinan. Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teluk Bintuni, Wawan Gunawan, S.H., mengatakan penentuan desil kesejahteraan semestinya melihat kondisi sosial ekonomi rumah tangga, bukan semata-mata pekerjaan seseorang.
Menurut Wawan, indikator kesejahteraan mencakup kondisi tempat tinggal, sumber air minum, pendidikan, akses listrik, kepemilikan aset, kesehatan, hingga komposisi dan beban tanggungan keluarga. Kondisi wartawan pun beragam. Ada yang bekerja dengan gaji tetap dan fasilitas memadai, tetapi ada pula, terutama di media lokal, yang masih bergantung pada honor liputan, iklan, kerja sama media, serta penghasilan yang tidak selalu tetap.
“Menjadi wartawan bukan berarti otomatis hidup sejahtera. Begitu juga wartawan tidak selalu identik dengan kemiskinan,” ujar Wawan di Bintuni, Jumat (11/9/2026).
Di daerah, kata dia, tantangan itu semakin terasa karena sebagian wartawan harus menanggung sendiri biaya operasional liputan, mulai dari transportasi dan komunikasi hingga peralatan kerja. Karena itu, wartawan dengan penghasilan, aset, dan kondisi keluarga yang lebih baik dapat berada pada desil kesejahteraan tinggi.
Sebaliknya, mereka yang berpenghasilan rendah, memiliki aset terbatas, rumah sederhana, dan tanggungan besar dapat berada pada desil lebih rendah. “Profesi wartawan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan tingkat kesejahteraan seseorang. Yang harus dilihat adalah kondisi sosial ekonomi yang sebenarnya,” katanya.
Wawan menilai kesejahteraan wartawan tetap perlu mendapat perhatian tanpa harus memberikan perlakuan khusus dalam pendataan. Wartawan tetap harus dinilai secara objektif berdasarkan kondisi kehidupan masing-masing. Ia berharap data sosial ekonomi yang dihimpun BPS terus diperbarui agar menggambarkan keadaan keluarga secara akurat. Sebab, di balik pekerjaan yang menuntut wartawan menyampaikan informasi, mengawasi pelayanan publik, dan menjalankan kontrol sosial, ada kebutuhan hidup yang juga harus dipenuhi.
“Wartawan tidak selalu kaya secara materi, tetapi sering kali kaya akan tanggung jawab. Namun, tanggung jawab besar seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka,” ujar Wawan, yang telah dua kali menjabat Sekretaris PWI Teluk Bintuni.
**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**













